Teuku Markam turunan uleebalang, ia adalah penyumbang terbesar dari
emas Monas. Lahir tahun 1925. Ayahnya Teuku Marhaban. Kampungnya
Seuneudon dan Alue Capli, Panton Labu Aceh Utara. Sejak kecil Teuku
Markam sudah menjadi yatim piatu. Ketika usia 9 tahun, Teuku Marhaban
meninggal dunia. Sedangkan ibunya telah lebih dulu meninggal. Teuku
Markam kemudian diasuh kakaknya Cut Nyak Putroe. Sempat mengecap
pendidikan sampai kelas 4 SR (Sekolah Rakyat). Teuku Markam tumbuh lalu
menjadi pemuda dan memasuki pendidikan wajib militer di Koeta Radja
(Banda Aceh sekarang) dan tamat dengan pangkat letnan satu. Teuku Markam
bergabung dengan Tentara Rakyat Indonesia (TRI) dan ikut pertempuran di
Tembung, Sumatera Utara bersama-sama dengan Jendral Bejo, Kaharuddin
Nasution, Bustanil Arifin dan lain-lain.
25 April 2013
Menghargai Waktu
Bayangkan ada sebuah bank yang memberimu pinjaman uang sejumlah Rp.86.400,- setiap paginya. Semua uang itu harus kau gunakan. Pada malam hari, bank akan menghapus sisa uang yang tidak kau gunakan selama sehari. Coba tebak, apa yang akan kau lakukan? Tentu saja, menghabiskan semua uang pinjaman itu.
Setiap dari kita
memiliki bank semacam itu; bernama WAKTU.
Setiap pagi, ia akan memberimu 86.400
detik. Pada malam harinya ia akan menghapus sisa waktu yang tidak kau
gunakan untuk tujuan baik, karena ia tidak memberikan sisa waktunya padamu. Ia
juga tidak memberikan waktu tambahan. Setiap hari ia akan membuka satu rekening
baru utnukmu. Setiap malam ia akan menghanguskan yang tersisa. Jika kau tidak
menggunakannya maka kerugian akan meninpamu.
Kamu tidak bisa
menariknya kembali. Juga, kamu tidak bisa meminta "uang muka" untuk
keesokan hari. Kamu harus hidup di dalam simpanan hari ini.
Maka dari itu, investasikanlah untuk kesehatan, kebahagiaan, dan kesuksesanmu.
Jam terus berdetak. Gunakan waktumu sebaik - baiknya.
Maka dari itu, investasikanlah untuk kesehatan, kebahagiaan, dan kesuksesanmu.
Jam terus berdetak. Gunakan waktumu sebaik - baiknya.
Agar tahu pentingnya waktu SETAHUN, tanyakan pada murid yang gagal kelas.
Agar tahu pentingnya
waktu SEBULAN, tanyakan pada ibu
yang melahirkan prematur.
Agar tahu pentingnya
waktu SEMINGGU, tanyakan pada editor
majalah mingguan.
Agar tahu pentingnya waktu SEJAM, tanyakan pada kekasih yang menunggu untuk bertemu.
Agar tahu pentingnya waktu SEJAM, tanyakan pada kekasih yang menunggu untuk bertemu.
Agar tahu pentingnya
waktu SEMENIT, tanyakan pada orang
yang ketinggalan kereta.
Agar tahu pentingnya
waktu SEDETIK, tanyakan pada orang
yang baru saja terhindar dari kecelakaan.
Agar tahu pentingnya
waktu SEMILI DETIK, tanyakan pada
peraih medali perak Olimpiade.
Hargailah setiap
waktu yang kamu miliki. Dan lebih berharga lagi bila
kamu menggunakannya untuk tujuan kebahagian bersama orang
yang spesial. Dan ingatlah waktu tidaklah menunggu siapa - siapa.
Rahasia Nama-nama Kampung Betawi
Pemprov
dan DPRD DKI Jakarta rupanya menghadapi kesulitan untuk memberi
nama-nama pahlawan nasional pada jalan-jalan utama Jakarta. Seperti nama
Harmoni, yang dikenal selama ratusan tahun, diganti jadi Jl Majapahit.
Boplo di kawasan Menteng/Cikini yang berasal dari nama NV De Bouwploeg, sebuah perusahaan real estate yang membangun kawasan Menteng tahun 192-1930-an diganti jadi Jl RP Panji Suroso. Nama Kampung Sawah Besar yang hampir seusia kota Jakarta diganti jadi Jl Samanhudi, Jakarta Pusat.
Boplo di kawasan Menteng/Cikini yang berasal dari nama NV De Bouwploeg, sebuah perusahaan real estate yang membangun kawasan Menteng tahun 192-1930-an diganti jadi Jl RP Panji Suroso. Nama Kampung Sawah Besar yang hampir seusia kota Jakarta diganti jadi Jl Samanhudi, Jakarta Pusat.
Asal Mula Nama PONDOK GEDE
Pada tahun 1775 seorang Belanda
bernama Pendeta Johannes Hooyman membangun sebuah
gedung dengan selera campur aduk antar gaya
Eropa dengan corak Jawa. Dituturkan oleh penulis Belanda bahwa interiornya
dibuat dengan selera tinggi, kusen pintu dan jendela diberi ukiran indah serta
langit-langit dan dindingnya diperelok dengan figura artifisial. Karena rumah
ini besar, sekalipun pemiliknya merendah dengan menyebut Pondok, tetapi
masyarakat setempat memanggil langoed tersebut sebagai Pondok Gede. Keberadaan
Hooyman tidak banyak diceritakan dalam sejarah Pondok Gede.
Seperempat abad kemudian
kepemilikan langoed Pondok Gede ini jatuh ke tangan Lendeert Miero. Dan ini orang yang aneh alias kontroversial.
Asal Mula Nama LUBANG BUAYA
Konon,
ada seorang bapak bernama Datuk Banjir. Suatu ketika, saat hujan deras,
Datuk menutup kepalanya dengan kain sarung. Dia dan kedua temannya naik
di getek. Getek menurut KBBI adalah rakit. Rakit itu adalah kendaraan apung dibuat dari beberapa buluh (kayu) yg diikat berjajar dipakai untuk mengangkut barang atau orang di air.
Bisa jadi saat itu, malam hari. Sebab, suasananya gelap. Atau juga sore
hari menjelang malam. Datuk membiarkan geteknya berjalan sesuai arus
air hujan. Arahnya bisa jadi tidak terkontrol. Sebab, arus air tidak
berarturan. Tetapi yang pasti adalah arus air bergerak sesuai aliran
air dari tempat tinggi ke rendah.
Langganan:
Postingan (Atom)