23 Juni 2013

7 Angkutan Umum yang Sudah 'Punah' di Jakarta

1. HELICAK
Merupakan salah satu jenis kendaraan roda tiga yang pernah mewarnai jenis angkutan umum berpenumpang dua orang di Jakarta. Salah satu ciri khasnya adalah bentuknya merupakan gabungan dari helikopter dan becak. Karena sekalipun sekilas bentuknya mirip becak dan sopirnya duduk di sadel bagian belakang di atas motor yang berbodi mirip Vespa, tetapi ia bermotor dan penumpangnya duduk di kabin bagian depan, dalam ruangan kecil tertutup dari bahan fiber glass yang sekilas mirip naik helikopter.

Pertama kali diluncurkan tanggal 24 Maret 1971 di masa Gubernur Ali Sadikin, direncanakan untuk mengganti fungsi becak yang murni bertenaga manusia. Helicak diimpor dari Itali mula-mula sebanyak 400 unit dengan harga satuan pada saat itu Rp 400.000,00 hingga saat terakhir diimpor tahun 1999 dengan harga Rp 525.000,00 per unit. Salah satu kelemahan helicak dimana sang sopir harus kepanasan bila terik, dan basah kuyub bila turun hujan, menyebabkan kemudian para pengusaha transportasi lebih memilih moda angkutan bajaj yang mulai masuk tahun 1975 dan meminggirkan helicak. Kendaraan ini dilarang untuk dioperasikan oleh Pemda DKI pada 1987. Satu-satunya helicak yang masih beroperasi terlihat pada tahun 2004 di daerah sekitar Menteng dan mudah diperkirakan helicak benar-benar lenyap dari jalan-jalan di Jakarta. 


2. OPLET

Oplet sejatinya adalah mobil sedan merk Morris yang dimodifikasi, kadang dengan mobil Austin, sehingga oplet kadang disebut 'ostin' oleh orang awam. Ada yang mengatakan kata oplet berasal dari nama Chevrolet atau Opel. Ada pula yang menyebut oplet berasal dari kata auto let.
Oplet dibagi menjadi dua 'ruangan'. Ruang pertama di bagian depan adalah untuk sopir dan seorang penumpang. Ruangan kedua adalah untuk penumpang. Lantai di ruangan penumpang terbuat dari kayu, dengan atap dari seng dan rangka kayu. Sedangkan jendela oplet terbuat dari kayu dan plastik yang dibentangkan dan bisa dinaik-turunkan.
Apabila penumpang ingin menyewa angkutan oplet, maka dengan sistem borongan, maksudnya hanya satu orang membawa barang dan tidak boleh mengangkut penumpang yang lainnya. Angkutan oplet harus memberi sekedar uang rokok kepada pelindung pangkalan atau anak muda yang minta uang, agar trayeknya aman. Oplet beroperasi di Jakarta sejak tahun 1930. Dahulu operasi oplet terbatas di Jakarta Timur yakni daerah Pasar Kramat Jati, Cijantung, Cibubur dan Cilangkap juga Cisalak, sejak tahun 1950-an dengan izin trayek resmi. Pabrik karoseri untuk memodifikasi oplet, pada masa lalu ada di Meester Cornelis (sekarang disebut Jatinegara).
Pada tahun 1960-an dan 1970-an oplet merupakan kendaraan umum paling populer di Jakarta. Sebab pada saat itu bus ukuran sedang dan besar masih jarang. Namun menjelang 1980, trayek-trayek oplet mulai dihapus dan digantikan fungsinya oleh kendaraan lain seperti Mikrolet dan Metro Mini.


3. BEMO
Kendaraan roda tiga dengan posisi rodanya satu di depan dan dua di belakang. Bentuk depan agak menonjol yang dikenal dengan istilah "monyong", serta mempunyai dua pintu di depan. Ciri khas bemo yaitu penumpang naik dari bagian belakang karena tidak berpintu samping. Sedangkan pintu depan ada 2 buah untuk supir dan penumpang yang duduk berdampingan. Kemudian untuk membuka pintu depannya tidak sama dengan kendaraan lain yang umumnya arah membuka pintu ke depan tetapi bemo khusus ke arah belakang. Tempat duduk penumpang di belakang pada bemo ini mempunyai dua kursi panjang yang penumpangnya duduk saling berhadapan di mana satu kursi bisa memuat 3 orang penumpang. Jadi daya angkut kendaraan bemo bisa memuat penumpang 8 orang termasuk supir. Badan kendaraan ini terbuat dari besi dan kain terpal sebagai atap. Knalpotnya mengeluarkan asap apalagi kalau bensinnya kebanyakan dicampur oli dan bersuara agak keras. Kendaraan bemo mempunyai ukuran panjang kurang lebih 1,5 m, lebar kurang lebih 1 m dengan tinggi kurang lebih 1,5 m. Bemo selain sebagai alat transportasi yang murah juga melayani rute-rute yang tidak dilalui oleh kendaraan umum yang lain, serta relatif memberikan pelayanan yang lebih baik dari pada angkutan umum lain yang bercitra kurang tertib.


4. TREM
Ada 3 jenis trem yang pernah beroperasi di Jakarta, yaitu : trem kuda, trem uap dan trem listrik.
a. Trem Kuda
Trem yang beroperasi di Jakarta sebelum trem uap Betawi. Alat angkutan ini sudah ada sejak tahun 1869, merupakan kereta yang bentuknya memanjang ke belakang, berjalan di atas rel dan ditarik oleh tiga atau empat ekor kuda. Untuk klaksonnya si kusir meniupkan sebuah terompet. Trem kuda berangkat dari pangkalan di Kota Intan, memiliki stasiun di Harmoni, kemudian bercabang dua : satu menuju Tanah Abang sedang yang lainnya menuju Jatinegara melalui Pintu Air, Pasar Baru, Lapangan Banteng, Pasar Senen, Kramat dan berakhir di pangkalan Jatinegara.
Adapun rel dari trem kuda ini merupakan celah besi yang dapat dimasuki oleh roda. Kereta ini dapat memuat sampai 40 orang. Kereta panjang yang berjalan di atas rel, ditarik tiga sampai empat ekor kuda dengan terompet sebagai pengganti klakson. Tarif atau ongkos naik trem kuda dari Kota Intan ke Kramat adalah 10 sen. Tarif yang sama juga dikenakan untuk trayek Kramat-Jatinegara. Begitu juga di Kota Intan ke Tanah Abang lewat Harmoni. Tiap penumpang diberi karcis yang distempel dengan nomor. Kondektur akan memerintahkan kusir berhenti jika ada loneeng berbunyi, sebagai tanda ada penumpang yang naik atau turun. Setiap lima menit sekali lewat satu trem, dimulai pukul 05.00 sampai 20.00. Biasanya trem kuda itu hanya berhenti di stasiun tertentu saja, kecuali jika ada penumpang yang naik atau turun di tengah perjalanan. Kuda sebagai penarik trem umumnya didatangkan dari Sumba, Timor, Sumbawa, Tapanuli (kuda Batak), Priangan, dan Makasar.
Dalam Java Bode, 15 Desember 1860 diberitakan penggunaan trem yang ditarik kuda sebagai ide dari Mr. J. Babut du Mares. Namun pelaksanaan pembangunan jalur trem diberikan kepada Dumler & Co. (Java Bode, 10 Agustus 1867). Trem yang ditarik dengan kuda mulai beroperasi pada 20 April 1869. Pada Juni 1869, jalur tambahan dibangun oleh Perusahaan Trem Uap Batavia. Dari Gedung Harmonie ke Tanah Abang dan dari Harmonie sepanjang Rijswijk melalui Kramat dan berakhir di Meester Cornelis (Jatinegara).
Operasional trem yang ditarik kuda banyak menghadapi kendala antara lain tingginya pajak kuda, 545 kuda mati (1872), kuda harus dibantu kerbau di jalan yang menanjak (Java Bode, 20 November 1869), manajemen keuangan trem jelek, bahkan banyak orang Eropa menganggap penggunaan trem telah merendahkan martabatnya. Maret 1870, jalur dari Harmonie ke Tanah Abang ditutup.
Karena trem uap mulai beroperasi maka trem kuda menjadi kurang peminat sehingga menyebabkan kerugian. Pada tanggal 1 November 1886 seluruh pengelolaannya diserahkan kepada pribumi. Orang ini bertanggungjawab atas segala laba dan rugi yang dihasilkan oleh trem kuda. Karena pengelolaan dan keadaan sarana angkutan ini rupanya sudah sangat parah, tanggal 6 Januari 1887 ia menghilang dan berakhir sudah riwayat trem kuda yang sudah ada sejak 1869.

b. Trem Uap
Disebut juga trem steam, pertama mulai beroperasi di bawah manajemen Perusahaan Trem Hindia Belanda, NITM (Nederlandsch-Indische Tramweg Maatschappij) dan Netherlands Indes Tramways Companyatau Batavia Tramways Company. Lebih memuaskan dan populer ketimbang trem kuda. 
Orang Betawi biasa menerjemahkan NITM dengan kepanjangan "Naik Ini Trem Mati". Sebabnya, tempat duduk di trem terbagi dalam beberapa kelas, ada kelas satu duduk orang kulit putih, ada kelas dua untuk orang-orang timur asing, dan ada kelas tiga untuk pribumi dan kambing. Oleh karena itu kelas tiga disebut kelas kambing. Sebagai sarana angkutan umum di Batavia, trem uap ini menelusuri panjang kotapraja hingga di batas selatan Meester Cornelis dan terbagi atas dua cabang yaitu Batavia-Kramat dan Kramat-Meester Cornelis
Loknya terdiri atas sebuah ketel yang disebut remise. Di pangkalannya di Kramat, remise diisi dengan uap yang sudah jadi, yang memiliki tekanan tertentu. Uap yang diisikan cukup untuk perjalanan trayek trem itu pulang balik, yang kemudian diisi dengan uap pada saat balik ke Kramat.
Trem yang beroperasi di Betawi tahun 1881 dengan rute dari Kasteelplein (di kota lama)-Niewpoortstraat (Jl.Pintu Besar)-sepanjang Rolenvliet-West (Jl.Gajah Mada)-Rijswijk (Jl.Veteran)-Posweg (Jl.Pos)-Waterlooplein (Lapangan Banteng)-Senen-Kramat-sepanjang Jl.Pos ke arah Meester Cornelis dan terakhir sampai di stasiun yang terletak di ujung Kerkstraat (Jl.Gereja). Ongkosnya untuk sekali jalan adalah 20 sen untuk kelas satu dan 10 sen untuk kelas 2. Trem tersebut mulai beroperasi pada jam 6 pagi sampai jam 7 petang. Sesudah jam 7 petang tidak dibenarkan mengadakan operasi dengan pertimbangan untuk memberi kesempatan kepada beberapa keramaian di kota lama yang pada malam hari biasa diadakan keramaian-keramaian. 
Trem bermesin uap dihapuskan oleh Presiden Soekarno tahun 1960.

c. Trem Listrik
Pertama kali beroperasi di Batavia tahun 1899. Perusahaan yang mengoperasikannya adalah Nederlandsch-Indische Tram Maatscappij (NTM) dan Batavia-Electrisch Tram Maatscappij (BVM) atau Electrische Tram Maatschapptj berdiri pada tahun 1897 dengan jalur perjalanan dari Kota Intan sampai Kramat. Trem listrik BETM mengoperasikan 5 jalur yaitu: 
  • Menteng-Kramat-Senen, Vrijmetselaarweg, Gunung Sahari-Kota dan Kembali. 
  • Menteng-Willemslaan-Harmoni dan kembali. 
  • Menteng-Willemslaan-Vrijmetselaarweg Harmoni dan kembali. 
  • Menteng-Tanah Abang, Harmoni dan kembali. 
  • Vrijmetselaarweg, Willemslaan-Harmoni dan kembali. 
Masih ada di Jakarta sampai 1960-an tapi sekarang tidak ada lagi. Tarif angkutan untuk satu atau dua rit di kelas I masing-masing 20 dan 35 sen, dan untuk sebagian 15 sen, juga diadakan abonemen bulanan untuk semua jalur. 


5. BECAK
Kendaraan beroda tiga, digerakkan dengan tenaga manusia. Merupakan salah satu alat angkut yang sangat potensial baik mengangkut orang, hewan maupun dalam upaya pendistribusian barang-barang hasil pertanian baik sawah maupun pertanian ladang atau kebun. Alat angkutan beroda tiga yang dikayuh oleh pengendara di belakang seperti mengayuh sepeda. Bentuknya bagian depan sebelah kiri dan kanan terdapat 2 buah roda dengan di atasnya terdapat bangku yang mempunyai atap tertutup terpal. Sedangkan pengemudinya duduk dibagian belakang sambil mengayuh dan mengemudikan becak tersebut. Becak masuk Betawi, tahun 1940.
Komponen becak terdiri dari: 
  • Ban becak ada 3 seperti ban sepeda dan dibuat dari karet. Roda ada tiga untuk tempat ban dan alat pemutar sehingga becak bisa bergerak. 
  • Pedal terbuat dari karet yang dibuat segi empat panjang sebanyak 3 buah setiap pedal antara satu dengan lainnya dihubungkan oleh besi. 
  • Stang, sebagai alat atau pegangan agar kendaraan itu bisa dikendalikan jalannya sehingga stabil tidak miring ke kiri dan ke kanan. 
  • Pelek dari besi stenlis, sebagai alat penahan ban dalam. 
  • Jok, tempat duduk pengendara sama dengan jok sepeda kecil. Sedangkan jok untuk penumpang ukuran 1/2 meter dan bisa diduduki 2 orang sampai 3 orang. Jok bagian dalam yang tebalnya ± 10 cm terbuat dari busa sedangkan bagian luar terbuat dari plastik. 
  • Bagian atas ada alat pelindung yang disebut kap agar penumpang tidak kehujanan atau kepanasan. Kap ini terbuat dari terpal tebal yang sisinya ada besi-besi tipis yang disambung dengan mur agar bisa dilipat-lipat.
Selain dihias dengan cat warna warni, becak sering diperindah dengan bulu-bulu ayam. Di bawah tempat duduk penumpang, sering direntang karet tipis yang bergetar bila tertiup angin, menimbulkan bunyi mendengung. Ada juga yang memasang potongan-potongan besi dan kaleng di bawah jok sehingga menimbulkan suara riuh. Pemilik becak, biasanya disebut tauke becak, menyewakan becaknya pada pengemudi. Sewa becak ini dibayarkan secara harian, pada waktu pengemudi mengembalikan becak.
Dari tahun ke tahun jumlah becak di Jakarta, makin banyak sehingga menimbulkan masalah lalu lintas dan kondisi ini diperparah oleh tingginya urbanisasi. Untuk membatasi jumlah becak yang ada di jalan-jalan, muncul solusi membagi becakmenjadi dua bagian: yang beroperasi siang, dan yang beroperasi malam hari. Cara lain membagi dalam wilayah operasi, misalnya, pernah membagi becak dalam lima wilayah operasi, masing-masing dengan warna cat yang berlainan. Becak dari wilayah Jakarta Pusat, tak boleh beroperasi di Jakarta Timur.
Namun bermacam peraturan itu tak berhasil mengatasi masalah lalu lintas yang ditimbulkan oleh banyaknya jumlah becak. Pemda DKI Jakarta kemudian membuat peraturan yang lebih keras lagi, yakni menetapkan adanya Daerah Bebas Becak.Becak yang melintas di daerah itu ditangkap, dan becaknya disita. Yang jumlahnya mencapai ribuan, ditumpuk menggunung, dan lama-lama tak ada lagi tempat untuk menaruh becak-becak sitaan itu. Akhirnya, mulai tahun 1986 becak-becak sitaan itu dibuang ke laut, dijadikan rumpon ikan.
Karena kegiatannya makin dibatasi, sebagian pengendaraan untuk menjajakan barang dagangan, antara lain roti, kue-kue, es krim, dan lain-lain. Ada pula yang merombak becaknya menjadi kereta dorong pengangkut barang, atau gerobak sampah. Di beberapa bagian kota, fungsi becak kemudian digantikan dengan jenis lain seperti helicak, bemo, dan lain-lain. 


6. BUS TINGKAT

Bus tingkat terkenal di tahun 1970-an hingga tahun 1980-an karena body-nya yang panjang dan bertingkat, angkutan ini begitu banyak digemari dan menjadi angkutan terbagus saat itu. Pengelolanya adalah Pengangkutan Penumpang Djakarta alias PPD. PPD dibentuk dari Maskapai Lintas Kota Batavia yang dinasionalisasi tahun 1954.
Seiring perkembangan zaman juga dari segi keamanan yang sangat penting bagi penumpang. Bus tingkat mulai dilarang beroperasi di tahun 1990-an karena tidak efisien jika melintasi jalan-jalan protokol yang banyak ditanam pepohonan untuk penghijauan. 


7. DELMAN
Delman merupakan kereta dengan dua roda yang ditarik kuda. Nama Delman berasal dari nama penemunya, Ir Charles Theodore Deeleman. Dia adalah insinyur dan juga ahli irigasi yang memiliki bengkel besi di pesisir Batavia (Jakarta sekarang) dan berasal dari kata Belanda deeleman. Delen berarti "membagi". Tempat duduk dalam delman memang terbagi dua, di kiri dan kanan dua deret di belakang kusir berhadap-hadapan. Sebagian besar delman merupakan kendaraan sewaan dan sampai sekarang pun bentuknya tidak berubah. Di samping itu terdapat pula delman pribadi yang bentuknya lebih mewah dari delman sewaan.
Orang Belanda sendiri menyebut kendaraan ini dengan nama dos-à-dos (punggung pada punggung, arti harfiah bahasa Perancis), yaitu sejenis kereta yang posisi duduk penumpangnya saling memunggungi. Istilah dos-à-dos ini kemudian oleh penduduk pribumi Batavia disingkat lagi menjadi ‘sado’
Seorang kusir duduk di depan mengendalikan jalannya kuda yang menarik delman. Sedangkan penumpang duduk di dalam, di belakang kusir, dengan duduk berhadap-hadapan. Meski kebanyakan delman merupakan sewaan namun ada juga yang merupakan milik pribadi.
Delman di Jakarta dibuat oleh pabrik-pabrik khusus, salah satunya terletak di Jl Gadjah Mada. Pabrik karoseri delman disebut wagenmakerij yang juga melayani pembuatan dan pemasangan tapal kuda. Tempat ini juga menjadi bengkel delman. Mulanya, delman menggunakan ban besi. Namun setelah jalanan diaspal, ban kuda berganti dengan karet.
Dulu, Delman juga digunakan sebagai media promosi film yang tengah diputar. Poster-poster film dipajang di delman yang berkeliling kota. Pengumuman jadwal pemutaran film dan tabuhan genderang dan tambur bertalu-talu plus bunyi bel membuat kendaraan ini menarik perhatian massa.
Karena kendaraan ini relatif lambat berjalannya dan kotoran kuda bergelimpangan di jalan, perlahan delman mulai ditinggalkan warga Jakarta.


Sumber :


Tidak ada komentar:

Posting Komentar